All Stories
Showing posts with label Yoga. Show all posts
Showing posts with label Yoga. Show all posts

Tuesday, November 15, 2011

Secara garis besar Yoga ada 4 jenis, yaitu :
Karma Yoga, Bakti Yoga, Jnana Yoga, dan Raja Yoga.
Adapun Mantra Yoga, Japa Yoga, Hatha Yoga, Kundalini Yoga, Kriya Yoga, dll. dikatagorikan sebagai Raja Yoga.
Karma Yoga, yoga yang dilakukan melalui kehidupan tanpa pamrih. Para praktisinya tidak pernah mengeluh menghadapi persoalan. Semua masalah dipandang merupakan akibat dari karma, maka harus diterima dan dihadapi. Konsep ini banyak disalah-pahami sebagai konsep hidup pasip, padahal konsep ini justru membawa manusia menjadi aktip dalam menghadapi kehidupan. Karma Yoga mengajarkan pada manusia untuk menghadapi dan menyelesaikan persoalan, bukan melarikan diri dari persoalan.

Bila anda praktisi Karma Yoga, maka persoalan apapun yang terjadi harus anda terima, tidak melarikan diri. Melarikan diri bukan solusi, tapi justru menimbun persoalan dan membuat persoalan baru. Persoalan tidak akan pernah hilang, yang ada hanyalah penundaan dan penumpukan. Untuk menyelesaikannya, mau - tidak mau, suka-terpaksa, semua harus dihadapi. Entah kapan, yang jelas semua persoalan perlu penyelesaian. Banyak penderita stress, bahkan yang bunuh diri, dikarenakan tidak mau menerima suatu persoalan sebagai kenyataan dan menyelesaikannya, kemudian melarikan diri tanpa mau menghadapi dan menyelesaikannya.
 
Bakti Yoga, yoga yang dilakukan dengan berbakti kepada Tuhan, yaitu melaksanakan perintah dan menjauhi larangan Tuhan. Semuanya dilakukan dengan cinta tanpa memiliki pamrih apa pun (termasuk ingin masuk sorga). Kecintaan praktisi Bakti Yoga (Bakta) bermakna luas. Bukan hanya pada Tuhan, namun juga pada semua mahluk ciptaan-NYA. Mencintai ciptaan-NYA merupakan manifestasi dari mencintai Sang Pencipta. Cinta seorang Bakta tidak membeda-bedakan ras, suku, bangsa, dan agama. Tidak membenci yang miskin - yang kaya, yang indah - yang buruk, yang pintar - yang bodoh, yang beriman - yang kafir. Semuanya dicintai, bahkan binatang, tumbuhan, dan batu-batuan pun tidak luput dari kecintaan seorang praktisi Bakti.
 
Jnana Yoga
yoga yang dilakukan dengan jalan pengetahuan. Praktisi yoga ini adalah para intelektual, dengan cara mengkikis kebodohan manusia. Dengan terkikisnya kebodohan, maka manusia semakin pandai. Semakin pandai manusia, terhapuslah kemiskinan, ketidak-adilan, dan kesewenangan. Dengan demikian semakin damai dunia. Semua itu dikarenakan manusia tahu akan hakekat dirinya. Manusia yang tahu hakekat dirinya, maka dia akan tahu hakekat Tuhannya. Itulah tugas para praktisi Jnana Yoga.
 
Raja Yoga
yoga yang dilakukan dengan cara mempraktekkan secara langsung tata cara pengedalian pikiran dan kesadaran indra-indra manusia. Raja Yoga memuat berbagai disiplin fisik dan pikiran, semua dilakukan dalam rangka menuju kepenyatuan seorang hamba dengan Tuhan. Hasil dari semua itu disebut Pencerahan, Manunggaling Kawula Gusti (Jw.). Makrifatullah (Is.). Apapun namanya, bukan suatu masalah yang patut diperdebatkan. Bagi praktisi yoga, yang penting adalah pelaksanaannya.
Perkembangan kemudian, hanya Raja Yoga lah yang dikenal sebagai Yoga. Bagi praktisi Raja Yoga, praktek Hatha, Japa, Mantra, Kundalini, dsb. bukanlah sesuatu yang terpisah. Sebagaimana praktek Sholat, tidak pernah memisahkan antara “bacaan” (doa-doa) dengan “gerakan-gerakannya”, semuanya sakral. Seorang praktisi Yoga yang sempurna, juga melakukan praktek Bakti, Karma, dan Jnana. Sebagaimana seorang yang taat beragama, tidak hanya melakukan ritual peribadatan pada Tuhan saja, tapi juga melakukan semua aturan moralitas dan hukum yang telah digariskan.

Guru
Belajar Bakti, Karma, Jnana bisa saja tanpa guru, tapi belajar Raja Yoga keberadaan seorang guru/pembimbing merupakan syarat mutlak. Seperti melakukan Kundalini Yoga, mengaktifkan cakra-cakra adalah pekerjaan yang sukar dan berbahaya tanpa adanya bimbingan seorang guru. Kitab Siva Samhita menerangkan bahwa belajar Yoga tanpa guru sungguh tidak berguna, lemah, dan menyedihkan. Bagi seorang murid yoga, mendapatkan seorang guru merupakan suatu anugrah yang luar biasa, tidak bisa diukur dengan harta,tahta, dan nyawa sekali pun karena hanya pengetahuan yang diberikan dari bibir seorang guru saja yang penuh kekuatan dan sangat berguna.
Seorang guru dapat memberikan sakti sancara (pemberian kekuatan batin) kepada murid. Cara yang dilakukan pemberian tersebut dengan jalan spharsa (menyentuh), dharsana (memandang), atau dengan cara sankalpa (berkehendak). Orang yang sering bermeditasi akan merasakan betapa berbedanya meditasi sendiri selama bertahun-tahun dibanding meditasi dengan seorang guru beberapa menit saja. Kekuatan rohani seorang guru memberikan berkah baginya. Demikian pula dalam Yoga keberadaan seorang guru adalah sangat esensial.
Mencari seorang guru bukan hal yang mudah. Seseorang yang berdekatan dengan guru akan mengalami ketenangan. Seorang guru terbebas dari segala problem mental. Seorang guru hidup penuh kemuliaan moralitas. Seorang guru memiliki kontrol terhadap semua lapisan jiwa. Seorang guru tidak hanya mengajar, tapi juga menuntun murid pada kemajuan lebih lanjut. Demikian sekilas tentang ciri-ciri seorang guru yang berkwalitas menurut kitab-kitab Yoga. Selama bumi masih berputar, seorang guru selalu ada. Seringkali seorang guru menghampiri kita. Persoalannya, apakah kita mau menjadi murid atau tidak. Keangkuhan dan kebodohan diri yang seringkali menjadi hambatan untuk berjumpa dengan guru.
Teknik yoga merupakan explorasi terhadap diri sendiri, sehingga dapat memaksimalkan segenap potensi diri yang belum dikenali. Tubuh manusia merupakan perangkat komputer yang super canggih sekaligus pesawat yang dapat membawa dirinya menjelajah ke seluruh pelosok penjuru bumi dan langit (semacam peristiwa mi`raj Nabi Muhammad-Is.). Yoga membawa manusia untuk melampaui yang fana, baik yang tampak maupun tidak tampak.
Belajar yoga menuntut pengalaman langsung. Tidak hanya berkutat pada pengetahuan saja, seperti para cendekiawan, pakar agama, dan ahli filsafat. Mereka lebih senang berolah pikir dan berdebat tentang alam, manusia, dan Tuhan. Namun, tidak pernah sampai pada pengalaman yang lebih jauh tentang alam, manusia, dan Tuhan. Bahkan seringkali justru terjerumus pada pen-dewa-an akal dan alam, kemudian mengesampingkan Tuhan. Mereka tidak memiliki pengalaman rohani, karena tidak pernah menterjemahkan pengetahuannya dalam hidup sehari-hari. Menguasai berbagai kitab suci, tapi tidak memahaminya. Memahaminya tapi tidak melaksanakan. Di sini-lah perbedaan antara para yogi (sufi-Is.) dengan para ahli kitab (cendekiawan).
Latihan yoga tidak harus meninggalkan keluarga dan menyepi di hutan. Seorang yogi (praktisi yoga) bisa saja berada di tengah keramaian dunia. Seperti bunga teratai yang tumbuh di lumpur, tapi tidak tercemar oleh lumpur. Tidak hanya orang Hindu atau Buddha saja yang dapat menjadi yogi. Siapa pun bisa menjadi yogi, bahkan banyak orang yang tidak pernah mendengar istilah-istilah dalam ajaran yoga, tetapi hidup mereka bagaikan seorang yogi.

Patanjali
Patanjali, seorang yogi (praktisi yoga), menerangkan bahwa yoga memiliki 8 bagian yang tidak terpisahkan, yaitu : Yama (mengendalikan diri), Niyama (ketaatan), Asana (Sikap badan), Pranayama (pengaturan nafas), Pratyahara (Pengaturan diri/indra), Dharana (Konsentrasi), Dhyana (Meditasi), dan Samadhi (Keseimbangan). Bagian-bagian yoga tersebut tidak dapat dipisahkan, sebagaimana bagian tubuh manusia yang juga tidak dapat dipisah-pisahkan. Pengaturan nafas tanpa pengaturan diri, bukanlah Yoga, demikian seterusnya. Kedelapan bagian tersebut adalah satu kesatuan.
Lebih lanjut Pantanjali menjelaskan. Yama berarti menghindari kekerasan (Ahimsa), mantap dalam kebenaran (satya), mantap dalam kejujuran (asteya), Hidup dalam Tuhan (Brahmacharya), tidak tamak (Aparigraha). Dan, Niyama berarti menjaga kebersihan dan kesucian diri (sauca), merasa puas dengan apa adanya (samtosa), sederhana (tapah), mempelajari diri sendiri (swadaya), dan menyerahkan segalanya pada Tuhan (Iswara pranidhana).
Asana tidak hanya berarti sikap yang nyaman dalam postur-postur yoga, tapi pola hidup yang nyaman, yaitu pola hidup yang seimbang. Makan tidak berlebihan-puasa juga tidak berlebihan. Mencintai tidak berlebihan-membenci juga tidak berlebihan, dan seterusnya. Rasa nyaman ini harus permanen-tidak temporer.
Pranayama yaitu menyadari proses pernafasan. Menyadari proses pernafasan berarti menyadari tipisnya jarak antara kehidupan dan kematian. Bermula dari sini manusia akan mencapai tingkatan kasih tanpa pamrih. Tingkatan ini-lah yang membedakan antara manusia dengan hewan.
Pratyahara berarti menyadari pola-pola berpikir. Pola pikir terkendali maka kontrol diri (indra-indra) juga terkendali. Dengan demikian seseorang tidak akan tergoda oleh objek-objek duniawi. Peng-haram-an atas objek-objek dunia, seperti sex bebas, narkoba, dsb. Tidak akan banyak membantu. Justru, pelarangan tersebut seringkali membuat seseorang terobsesi. Ajaran yoga tidak mengharamkan sesuatu apa-pun, tapi menuntut pengendalian/pelepasan diri terhadap objek-objek duniawi tersebut. Demikian-lah yoga, menuntut pelepasan ego secara luas. Selama seseorang belum dapat mengendalikan dirinya, maka tidak dianjurkan melakukan yoga (jalan spiritual). Karena tujuan yoga adalah menenangkan danau pikiran manusia sehingga bayangan ilahi nampak terlihat dengan sangat jelas. Oleh sebab itu, supaya pikiran tidak kacau maka dibutuhkan niat yang kuat dalam melaksanakan yoga.
Dharana (konsentrasi), mencapai konsentrasi berarti seseorang telah mencapai ketenangan yang alami. Ketenangan yang permanen-bukan dibuat-buat. Pada bagian ini seseorang mencapai kedamaian Illahi sekaligus memancarkan cahaya ilahi pada lingkungannya. Tidak ada lagi gundah-gulana, sedih-gembira, baik-buruk, yang dapat mempengaruhinya.
 
Selanjutnya Dhyana (meditasi yang mendalam), menyadari sesuatu tanpa ada gangguan lagi.
Kemudian bagian terakhir Samadhi (tujuan akhir meditasi), kondisi ini tidak dapat lagi dijelaskan. Inilah pencerahan, tempat pertemuan antara kekasih dengan yang dikasihi, pertemuan antara hamba dengan Tuan, pertemuan antara Khalik dengan mahluk.
 
Demikian sekilas penjelasan tentang 8 bagian yoga yang diajarkan oleh Patanjali. Kedelapan bagian tersebut berkaitan-tidak bisa dipisahkan. Pelaksanaan dari 8 bagian tersebut itu-lah yang disebut yoga dalam arti yang sesungguhnya. Ini perlu dijelaskan karena bagi masyarakat Indonesia, yoga seringkali disalahartikan sebagai “akrobat” atau semacam “praktek-praktek klenik”, dan lain sebagainya..

Jenis-jenis Yoga

Secara garis besar Yoga ada 4 jenis, yaitu :
Karma Yoga, Bakti Yoga, Jnana Yoga, dan Raja Yoga.
Adapun Mantra Yoga, Japa Yoga, Hatha Yoga, Kundalini Yoga, Kriya Yoga, dll. dikatagorikan sebagai Raja Yoga.
Karma Yoga, yoga yang dilakukan melalui kehidupan tanpa pamrih. Para praktisinya tidak pernah mengeluh menghadapi persoalan. Semua masalah dipandang merupakan akibat dari karma, maka harus diterima dan dihadapi. Konsep ini banyak disalah-pahami sebagai konsep hidup pasip, padahal konsep ini justru membawa manusia menjadi aktip dalam menghadapi kehidupan. Karma Yoga mengajarkan pada manusia untuk menghadapi dan menyelesaikan persoalan, bukan melarikan diri dari persoalan.

Bila anda praktisi Karma Yoga, maka persoalan apapun yang terjadi harus anda terima, tidak melarikan diri. Melarikan diri bukan solusi, tapi justru menimbun persoalan dan membuat persoalan baru. Persoalan tidak akan pernah hilang, yang ada hanyalah penundaan dan penumpukan. Untuk menyelesaikannya, mau - tidak mau, suka-terpaksa, semua harus dihadapi. Entah kapan, yang jelas semua persoalan perlu penyelesaian. Banyak penderita stress, bahkan yang bunuh diri, dikarenakan tidak mau menerima suatu persoalan sebagai kenyataan dan menyelesaikannya, kemudian melarikan diri tanpa mau menghadapi dan menyelesaikannya.
 
Bakti Yoga, yoga yang dilakukan dengan berbakti kepada Tuhan, yaitu melaksanakan perintah dan menjauhi larangan Tuhan. Semuanya dilakukan dengan cinta tanpa memiliki pamrih apa pun (termasuk ingin masuk sorga). Kecintaan praktisi Bakti Yoga (Bakta) bermakna luas. Bukan hanya pada Tuhan, namun juga pada semua mahluk ciptaan-NYA. Mencintai ciptaan-NYA merupakan manifestasi dari mencintai Sang Pencipta. Cinta seorang Bakta tidak membeda-bedakan ras, suku, bangsa, dan agama. Tidak membenci yang miskin - yang kaya, yang indah - yang buruk, yang pintar - yang bodoh, yang beriman - yang kafir. Semuanya dicintai, bahkan binatang, tumbuhan, dan batu-batuan pun tidak luput dari kecintaan seorang praktisi Bakti.
 
Jnana Yoga
yoga yang dilakukan dengan jalan pengetahuan. Praktisi yoga ini adalah para intelektual, dengan cara mengkikis kebodohan manusia. Dengan terkikisnya kebodohan, maka manusia semakin pandai. Semakin pandai manusia, terhapuslah kemiskinan, ketidak-adilan, dan kesewenangan. Dengan demikian semakin damai dunia. Semua itu dikarenakan manusia tahu akan hakekat dirinya. Manusia yang tahu hakekat dirinya, maka dia akan tahu hakekat Tuhannya. Itulah tugas para praktisi Jnana Yoga.
 
Raja Yoga
yoga yang dilakukan dengan cara mempraktekkan secara langsung tata cara pengedalian pikiran dan kesadaran indra-indra manusia. Raja Yoga memuat berbagai disiplin fisik dan pikiran, semua dilakukan dalam rangka menuju kepenyatuan seorang hamba dengan Tuhan. Hasil dari semua itu disebut Pencerahan, Manunggaling Kawula Gusti (Jw.). Makrifatullah (Is.). Apapun namanya, bukan suatu masalah yang patut diperdebatkan. Bagi praktisi yoga, yang penting adalah pelaksanaannya.
Perkembangan kemudian, hanya Raja Yoga lah yang dikenal sebagai Yoga. Bagi praktisi Raja Yoga, praktek Hatha, Japa, Mantra, Kundalini, dsb. bukanlah sesuatu yang terpisah. Sebagaimana praktek Sholat, tidak pernah memisahkan antara “bacaan” (doa-doa) dengan “gerakan-gerakannya”, semuanya sakral. Seorang praktisi Yoga yang sempurna, juga melakukan praktek Bakti, Karma, dan Jnana. Sebagaimana seorang yang taat beragama, tidak hanya melakukan ritual peribadatan pada Tuhan saja, tapi juga melakukan semua aturan moralitas dan hukum yang telah digariskan.

Guru
Belajar Bakti, Karma, Jnana bisa saja tanpa guru, tapi belajar Raja Yoga keberadaan seorang guru/pembimbing merupakan syarat mutlak. Seperti melakukan Kundalini Yoga, mengaktifkan cakra-cakra adalah pekerjaan yang sukar dan berbahaya tanpa adanya bimbingan seorang guru. Kitab Siva Samhita menerangkan bahwa belajar Yoga tanpa guru sungguh tidak berguna, lemah, dan menyedihkan. Bagi seorang murid yoga, mendapatkan seorang guru merupakan suatu anugrah yang luar biasa, tidak bisa diukur dengan harta,tahta, dan nyawa sekali pun karena hanya pengetahuan yang diberikan dari bibir seorang guru saja yang penuh kekuatan dan sangat berguna.
Seorang guru dapat memberikan sakti sancara (pemberian kekuatan batin) kepada murid. Cara yang dilakukan pemberian tersebut dengan jalan spharsa (menyentuh), dharsana (memandang), atau dengan cara sankalpa (berkehendak). Orang yang sering bermeditasi akan merasakan betapa berbedanya meditasi sendiri selama bertahun-tahun dibanding meditasi dengan seorang guru beberapa menit saja. Kekuatan rohani seorang guru memberikan berkah baginya. Demikian pula dalam Yoga keberadaan seorang guru adalah sangat esensial.
Mencari seorang guru bukan hal yang mudah. Seseorang yang berdekatan dengan guru akan mengalami ketenangan. Seorang guru terbebas dari segala problem mental. Seorang guru hidup penuh kemuliaan moralitas. Seorang guru memiliki kontrol terhadap semua lapisan jiwa. Seorang guru tidak hanya mengajar, tapi juga menuntun murid pada kemajuan lebih lanjut. Demikian sekilas tentang ciri-ciri seorang guru yang berkwalitas menurut kitab-kitab Yoga. Selama bumi masih berputar, seorang guru selalu ada. Seringkali seorang guru menghampiri kita. Persoalannya, apakah kita mau menjadi murid atau tidak. Keangkuhan dan kebodohan diri yang seringkali menjadi hambatan untuk berjumpa dengan guru.
Teknik yoga merupakan explorasi terhadap diri sendiri, sehingga dapat memaksimalkan segenap potensi diri yang belum dikenali. Tubuh manusia merupakan perangkat komputer yang super canggih sekaligus pesawat yang dapat membawa dirinya menjelajah ke seluruh pelosok penjuru bumi dan langit (semacam peristiwa mi`raj Nabi Muhammad-Is.). Yoga membawa manusia untuk melampaui yang fana, baik yang tampak maupun tidak tampak.
Belajar yoga menuntut pengalaman langsung. Tidak hanya berkutat pada pengetahuan saja, seperti para cendekiawan, pakar agama, dan ahli filsafat. Mereka lebih senang berolah pikir dan berdebat tentang alam, manusia, dan Tuhan. Namun, tidak pernah sampai pada pengalaman yang lebih jauh tentang alam, manusia, dan Tuhan. Bahkan seringkali justru terjerumus pada pen-dewa-an akal dan alam, kemudian mengesampingkan Tuhan. Mereka tidak memiliki pengalaman rohani, karena tidak pernah menterjemahkan pengetahuannya dalam hidup sehari-hari. Menguasai berbagai kitab suci, tapi tidak memahaminya. Memahaminya tapi tidak melaksanakan. Di sini-lah perbedaan antara para yogi (sufi-Is.) dengan para ahli kitab (cendekiawan).
Latihan yoga tidak harus meninggalkan keluarga dan menyepi di hutan. Seorang yogi (praktisi yoga) bisa saja berada di tengah keramaian dunia. Seperti bunga teratai yang tumbuh di lumpur, tapi tidak tercemar oleh lumpur. Tidak hanya orang Hindu atau Buddha saja yang dapat menjadi yogi. Siapa pun bisa menjadi yogi, bahkan banyak orang yang tidak pernah mendengar istilah-istilah dalam ajaran yoga, tetapi hidup mereka bagaikan seorang yogi.

Patanjali
Patanjali, seorang yogi (praktisi yoga), menerangkan bahwa yoga memiliki 8 bagian yang tidak terpisahkan, yaitu : Yama (mengendalikan diri), Niyama (ketaatan), Asana (Sikap badan), Pranayama (pengaturan nafas), Pratyahara (Pengaturan diri/indra), Dharana (Konsentrasi), Dhyana (Meditasi), dan Samadhi (Keseimbangan). Bagian-bagian yoga tersebut tidak dapat dipisahkan, sebagaimana bagian tubuh manusia yang juga tidak dapat dipisah-pisahkan. Pengaturan nafas tanpa pengaturan diri, bukanlah Yoga, demikian seterusnya. Kedelapan bagian tersebut adalah satu kesatuan.
Lebih lanjut Pantanjali menjelaskan. Yama berarti menghindari kekerasan (Ahimsa), mantap dalam kebenaran (satya), mantap dalam kejujuran (asteya), Hidup dalam Tuhan (Brahmacharya), tidak tamak (Aparigraha). Dan, Niyama berarti menjaga kebersihan dan kesucian diri (sauca), merasa puas dengan apa adanya (samtosa), sederhana (tapah), mempelajari diri sendiri (swadaya), dan menyerahkan segalanya pada Tuhan (Iswara pranidhana).
Asana tidak hanya berarti sikap yang nyaman dalam postur-postur yoga, tapi pola hidup yang nyaman, yaitu pola hidup yang seimbang. Makan tidak berlebihan-puasa juga tidak berlebihan. Mencintai tidak berlebihan-membenci juga tidak berlebihan, dan seterusnya. Rasa nyaman ini harus permanen-tidak temporer.
Pranayama yaitu menyadari proses pernafasan. Menyadari proses pernafasan berarti menyadari tipisnya jarak antara kehidupan dan kematian. Bermula dari sini manusia akan mencapai tingkatan kasih tanpa pamrih. Tingkatan ini-lah yang membedakan antara manusia dengan hewan.
Pratyahara berarti menyadari pola-pola berpikir. Pola pikir terkendali maka kontrol diri (indra-indra) juga terkendali. Dengan demikian seseorang tidak akan tergoda oleh objek-objek duniawi. Peng-haram-an atas objek-objek dunia, seperti sex bebas, narkoba, dsb. Tidak akan banyak membantu. Justru, pelarangan tersebut seringkali membuat seseorang terobsesi. Ajaran yoga tidak mengharamkan sesuatu apa-pun, tapi menuntut pengendalian/pelepasan diri terhadap objek-objek duniawi tersebut. Demikian-lah yoga, menuntut pelepasan ego secara luas. Selama seseorang belum dapat mengendalikan dirinya, maka tidak dianjurkan melakukan yoga (jalan spiritual). Karena tujuan yoga adalah menenangkan danau pikiran manusia sehingga bayangan ilahi nampak terlihat dengan sangat jelas. Oleh sebab itu, supaya pikiran tidak kacau maka dibutuhkan niat yang kuat dalam melaksanakan yoga.
Dharana (konsentrasi), mencapai konsentrasi berarti seseorang telah mencapai ketenangan yang alami. Ketenangan yang permanen-bukan dibuat-buat. Pada bagian ini seseorang mencapai kedamaian Illahi sekaligus memancarkan cahaya ilahi pada lingkungannya. Tidak ada lagi gundah-gulana, sedih-gembira, baik-buruk, yang dapat mempengaruhinya.
 
Selanjutnya Dhyana (meditasi yang mendalam), menyadari sesuatu tanpa ada gangguan lagi.
Kemudian bagian terakhir Samadhi (tujuan akhir meditasi), kondisi ini tidak dapat lagi dijelaskan. Inilah pencerahan, tempat pertemuan antara kekasih dengan yang dikasihi, pertemuan antara hamba dengan Tuan, pertemuan antara Khalik dengan mahluk.
 
Demikian sekilas penjelasan tentang 8 bagian yoga yang diajarkan oleh Patanjali. Kedelapan bagian tersebut berkaitan-tidak bisa dipisahkan. Pelaksanaan dari 8 bagian tersebut itu-lah yang disebut yoga dalam arti yang sesungguhnya. Ini perlu dijelaskan karena bagi masyarakat Indonesia, yoga seringkali disalahartikan sebagai “akrobat” atau semacam “praktek-praktek klenik”, dan lain sebagainya..

Posted at 12:46 AM |  by kang obet
 
Agama Hindu adalah agama yang berdasarkan kitab suci Veda. Sementara kitab Veda pertama kali digubah sekitar tahun 5000 SM, pada saat masuknya bangsa Arya ke India.  
Sementara Yoga sudah dikenal oleh masyarakat India jauh sebelum datangnya bangsa Arya. Para Yogi (praktisi yoga) sudah terdapat di India jauh sebelum jaman Veda.  

Sampai saat ini, praktisi yoga tidak hanya pemeluk Hindu saja, namun dari berbagai agama dan kepercayaan. Bahkan dalam beberapa literatur, disebutkan beberapa nabi dan orang-orang suci pun juga menjadi praktisi yoga, seperti Yesus dan nabi-nabi lain yang sulit disebutkan di sini.
Yoga adalah milik dunia, milik semua insan yang ingin menjalani kehidupan spiritual. Tanpa ada ikatan agama maupun tradisi. Sebagaimana sinar matahari, semua insan berhak berjemur dibawahnya.

Namun harus diakui, bahwa Yoga yang diketahui sekarang merupakan warisan dari khazanah budaya India. Maka istilah-istilah dalam Yoga mempunyai banyak kesamaan dengan istilah-istilah dalam agama Hindu, karena keduanya sama-sama lahir dalam tradisi kebudayaan India. Oleh karenanya, bila ingin mendalami Yoga, harus tidak keberatan menerima istilah-istilah India.  

Sebagaimana kita tidak pernah keberatan menggunakan istilah-istilah Latin, bila belajar ilmu kedokteran. Menggunakan istilah-istilah Jepang dalam belajar Karate dan istilah-istilah Cina dalam belajar Kungfu. Atau, mempelajari buku-buku bahasa Inggris untuk mendalami ilmu Ekonomi.

Yoga berasal dari suku kata yuj, dalam bahasa Sansekerta berarti "menghubungkan" atau "mempersatukan". Secara kebetulan, kata ini semakna dengan sholat yang berasal dari kata washola, dalam bahasa Arab yang juga berarti “menghubungkan” atau “mempersatukan”. 

Untuk menyatukan diri dengan Tuhan kalangan muslim melakukan sholat, berupa doa-doa dan gerakan-gerakan tertentu. Dalam Yoga, doa-doa disebut mantra yoga dan gerakan-gerakan disebut hatha yoga. 
Tujuan sholat adalah untuk berzikir – mengingat Allah. (QS 20:14). 

Hasilnya adalah tercegahnya perbuatan keji dan mungkar. Dan ritual ini (sholat) dipandang oleh Tuhan sebagai ritual yang lebih besar manfaatnya daripada ritual lainnya. (QS 29:45). Jika anda setuju, maka Yoga merupakan ritual yang besar manfaatnya.

Bila kita mengenal Karate atau Kungfu sebagai sebagai suatu tehnik untuk membela diri, maka Yoga merupakan suatu tehnik untuk mengenal diri. Siapa yang mengenal dirinya, maka dia mengenal Tuhannya”.  

Perlu ditegaskan lagi, bahwa Yoga adalah suatu sadhana (latihan yang bersifat spiritual). Bukan sebagaimana dipahami sekarang,Yoga diartikan sebagai senam atau latihan kanuragan.

Sebagaimana ilmu bela diri, berlatih Yoga juga memerlukan disiplin yang keras. Tidak ada dispensasi untuk memperpendek jalan. Namun, berlatih Yoga tidak ada istilah terlambat untuk dimulai. Apakah seorang anak - orang tua, wanita - pria, cacat - sehat, terpelajar - buta huruf, bahkan seorang yang suci atau pendosa pun dengan kesungguhan hati semuanya dapat berlatih Yoga.

Yoga Dan Meditasi

 
Agama Hindu adalah agama yang berdasarkan kitab suci Veda. Sementara kitab Veda pertama kali digubah sekitar tahun 5000 SM, pada saat masuknya bangsa Arya ke India.  
Sementara Yoga sudah dikenal oleh masyarakat India jauh sebelum datangnya bangsa Arya. Para Yogi (praktisi yoga) sudah terdapat di India jauh sebelum jaman Veda.  

Sampai saat ini, praktisi yoga tidak hanya pemeluk Hindu saja, namun dari berbagai agama dan kepercayaan. Bahkan dalam beberapa literatur, disebutkan beberapa nabi dan orang-orang suci pun juga menjadi praktisi yoga, seperti Yesus dan nabi-nabi lain yang sulit disebutkan di sini.
Yoga adalah milik dunia, milik semua insan yang ingin menjalani kehidupan spiritual. Tanpa ada ikatan agama maupun tradisi. Sebagaimana sinar matahari, semua insan berhak berjemur dibawahnya.

Namun harus diakui, bahwa Yoga yang diketahui sekarang merupakan warisan dari khazanah budaya India. Maka istilah-istilah dalam Yoga mempunyai banyak kesamaan dengan istilah-istilah dalam agama Hindu, karena keduanya sama-sama lahir dalam tradisi kebudayaan India. Oleh karenanya, bila ingin mendalami Yoga, harus tidak keberatan menerima istilah-istilah India.  

Sebagaimana kita tidak pernah keberatan menggunakan istilah-istilah Latin, bila belajar ilmu kedokteran. Menggunakan istilah-istilah Jepang dalam belajar Karate dan istilah-istilah Cina dalam belajar Kungfu. Atau, mempelajari buku-buku bahasa Inggris untuk mendalami ilmu Ekonomi.

Yoga berasal dari suku kata yuj, dalam bahasa Sansekerta berarti "menghubungkan" atau "mempersatukan". Secara kebetulan, kata ini semakna dengan sholat yang berasal dari kata washola, dalam bahasa Arab yang juga berarti “menghubungkan” atau “mempersatukan”. 

Untuk menyatukan diri dengan Tuhan kalangan muslim melakukan sholat, berupa doa-doa dan gerakan-gerakan tertentu. Dalam Yoga, doa-doa disebut mantra yoga dan gerakan-gerakan disebut hatha yoga. 
Tujuan sholat adalah untuk berzikir – mengingat Allah. (QS 20:14). 

Hasilnya adalah tercegahnya perbuatan keji dan mungkar. Dan ritual ini (sholat) dipandang oleh Tuhan sebagai ritual yang lebih besar manfaatnya daripada ritual lainnya. (QS 29:45). Jika anda setuju, maka Yoga merupakan ritual yang besar manfaatnya.

Bila kita mengenal Karate atau Kungfu sebagai sebagai suatu tehnik untuk membela diri, maka Yoga merupakan suatu tehnik untuk mengenal diri. Siapa yang mengenal dirinya, maka dia mengenal Tuhannya”.  

Perlu ditegaskan lagi, bahwa Yoga adalah suatu sadhana (latihan yang bersifat spiritual). Bukan sebagaimana dipahami sekarang,Yoga diartikan sebagai senam atau latihan kanuragan.

Sebagaimana ilmu bela diri, berlatih Yoga juga memerlukan disiplin yang keras. Tidak ada dispensasi untuk memperpendek jalan. Namun, berlatih Yoga tidak ada istilah terlambat untuk dimulai. Apakah seorang anak - orang tua, wanita - pria, cacat - sehat, terpelajar - buta huruf, bahkan seorang yang suci atau pendosa pun dengan kesungguhan hati semuanya dapat berlatih Yoga.

Posted at 12:44 AM |  by kang obet
Apakah anda termasuk salah satu orang yang takut untuk memulai latihan yoga? Dengan alasan “Aduh!!! Badan saya kaku, tidak pernah bisa cium lutut” atau “Lho? Yoga kan olahraga untuk orang yang lentur” atau “Badan saya terlalu gendut ah! Malu..!!” Sebenarnya ungkapan itu semua adalah persepsi yang salah. Justru dengan latihan yoga, sendi-sendi yang tadinya kaku menjadi lentur, otot-otot yang bulky menjadi lean dan lemak-lemak bisa dibakar jika anda rajin berolahraga.

Kelenturan atau fleksibilitas sama artinya dengan kenyamanan. Dengan gaya hidup perkotaan yang melibatkan duduk di depan komputer dan berada di dalam kendaraan dari pagi sampai malam setiap hari, pada akhirnya akan mengurangi kelenturan tubuh. Sehingga tanpa disadari semakin kita bertambah umur, tubuh kita akan kehilangan kelenturan, otot menjadi kaku, gerakan tubuh menjadi terbatas dan kita lebih rentan terkena sakit pinggang dan punggung bahkan keseleo sekalipun.

Banyak ahli berpendapat bahwa hanya dengan 10 menit latihan peregangan per hari dapat mengindari kerusakan prematur sendi dan otot seperti arthritis, scoliosis atau sakit tulang punggung kronis. Stretching atau peregangan memang merupakan syarat umum yang mutlak dilakukan dalam setiap kegiatan olahraga baik itu adalah latihan cardio ataupun latihan beban. Ini menunjukkan betapa pentingnya setiap individu melakukan peregangan dalam menjalankan aktifitas sehari-hari.

Yoga pada dasarnya adalah latihan yang universal, cocok untuk yang tua mapun yang muda, baik untuk yang badannya kaku maupun yang lentur, sangat berguna untuk stretching maupun memperkuat otot dan sendi. Gerakannya dilakukan secara perlahan dengan panduan napas lewat hidung sehingga efek yang dirasakan bisa lebih maksimal. Yoga juga dapat membantu kita untuk lebih awas akan aktifitas sehari-hari yang sekiranya dapat berakibat buruk kepada sendi-sendi kita dikemudian hari.

Kita sebagai manusia memang seringkali menganggap remeh kondisi kesehatan dan daya tahan tubuh kita. Tapi seringkali kita lupa, kesehatan kita ada batasnya bila tidak diimbangi dengan gaya hidup sehat yang mencakup diet yang seimbang dan olahraga yang cukup. Hanya dimulai dari 10 menit setiap hari anda sudah satu langkah lebih maju dalam menjaga kesehatan tubuh dari gangguan penyakit dan stress yang berkepanjangan.

10 Asana untuk Yogi Pemula


10 asana berikut ini dapat dijalankan setiap hari untuk memanjangkan dan melenturkan otot dan sendi. Pakailah baju yang nyaman, lakukan pemanasan untuk menghangatkan otot dan setiap stretching diikuti dengan napas yang panjang dan lembut. Pasti setelah melakukan stretching, badan menjadi lebih segar, pikiran menjadi lebih rileks dan menjalankan aktivitas sehari-hari menjadi lebih ringan dan bertenaga. Selamat mencoba!

1. Stretching Bahu (Urdhva Hastasana)

Ini adalah salah satu masalah yang banyak dialami kaum urban, keseharian yang penuh dengan stress dengan banyaknya tuntutan hidup mengakibatkan bahu kita selalu tegang. Banyak yang berpendapat bahwa bahu adalah tempat kita menyangga beban-beban hidup kita, akibatnya bahu terasa kaku dan leher terasa tegang. Caranya berdiri tegak, rentangkan kedua tangan lurus keatas kepala dengan telapak tangan saling berhadapan. Punggung bagian bawah diusahakan tetap pada lengkungan normalnya. Latihan ini bisa juga dilakukan sambil duduk.

2. Stretching otot lengan atas (Modified Gomukhasana Arms)
Caranya berdiri letakkan tangan kanan dibelakang kepala dan coba turunkan kearah punggung, dengan tangan kiri raih siku sebelah kanan dan perlahan ditarik ke arah belakang kepala. Ulangi dengan tangan kiri. Latihan ini juga bisa dilakukan dalam keadaan duduk.

3. Stretching Dada (Modified Bhujangasana)
Tidur tengkurap, kemudian sematkan jari2 dibelakang punggung, luruskan siku anda, kemudian tarik perlahan2 ke arah belakang sehingga tulang dada sedikit terangkat. Jangan dihentak keatas dan jika merasa kurang nyaman di punggung bagian bawah segera kembali ke posisi tengkurap. Latihan ini bisa juga dilakukan dalam posisi berdiri

4. Stretching Punggung (Jathara Parivartanasana)
Pose ini sangat berguna untuk melemaskan otot-otot punggung yang sangat sering kaku. Ini juga adalah salah satu area tubuh dimana kita paling sering merasa tegang. Di pagi hari biasanya timbul mungkin dari posisi atau kualitas tidur yang kurang baik, juga di malam hari setelah kita seharian duduk di meja kerja ditambah dengan waktu yang mau tidak mau dilewati duduk dalam kendaraan  Caranya tidur terlentang tekuk paha kanan ke arah dada, kemudian dengan tangan kiri tarik paha kanan ke arah kiri ke lantai. Usahakan bahu sebelah kanan tetap rileks. Ulangi dengan kaki kiri.

5. Stretching Paha Dalam (Baddha Konasana)
Duduk tegap, tekuk kaki kearah dalam, temukan kedua telapak kaki di tengah2, pegang jari-jari kaki dengan tangan lalu dengan bantuan siku dorong paha kearah lantai

6. Stretching Paha Atas (Virasana)
Duduk tegap, lipat kaki kanan sehingga pergelangan kaki berada disebelah luar tulang duduk kanan. Ulangi dengan kaki kiri

7. Stretching Paha Belakang (Janu Sirsasana)
Satu lagi daerah dimana kita seringkali merasa kaku. Secara umum, juga dikarenakan aktifitas kita yang banyak duduk dan tidak bergerak aktif. Bagi wanita seringkali diperparah dengan pemakaian hak tinggi yang menekan otot hamstring. Caranya duduk tegap, tekuk kaki kanan sehingga telapak kaki bertemu dengan paha dalam sebelah kiri. Coba membungkuk kedepan raih lutut kiri, usahakan punggung tetap lurus. Ulangi dengan kaki kiri

8. Stretching Otot Betis (Dandasana)
Duduk tegap, kedua kaki diluruskan kedepan, tangan disamping pinggul di lantai dengan bahu yang tetap rileks. Aktifkan jari-jari kaki sehingga arah jari menghadap ke masing-masing lutut

9. Stretching Pergelangan Kaki (Malasana)
Duduk jongkok kemudian usahakan tumit belakang rata dengan tumit depan. Untuk keseimbangan tangan boleh menyangga badan

10. Relaksasi (Savasana)

Tidur terlentang, pejamkan mata, napas seperti biasa dan usahakan tidak bergerak selama beberapa menit. Ini adalah pose yang paling penting karena dengan diam kita bisa merasakan semua sensasi peregangan yang baru saja dilakukan juga memberi kesempatan bagi tubuh kita untuk mengembalikan energi yang telah terkuras sehingga pasa saat kita membuka mata tubuh terasa lebih segar dan berenergi.

Belajar yoga untuk pemula

Apakah anda termasuk salah satu orang yang takut untuk memulai latihan yoga? Dengan alasan “Aduh!!! Badan saya kaku, tidak pernah bisa cium lutut” atau “Lho? Yoga kan olahraga untuk orang yang lentur” atau “Badan saya terlalu gendut ah! Malu..!!” Sebenarnya ungkapan itu semua adalah persepsi yang salah. Justru dengan latihan yoga, sendi-sendi yang tadinya kaku menjadi lentur, otot-otot yang bulky menjadi lean dan lemak-lemak bisa dibakar jika anda rajin berolahraga.

Kelenturan atau fleksibilitas sama artinya dengan kenyamanan. Dengan gaya hidup perkotaan yang melibatkan duduk di depan komputer dan berada di dalam kendaraan dari pagi sampai malam setiap hari, pada akhirnya akan mengurangi kelenturan tubuh. Sehingga tanpa disadari semakin kita bertambah umur, tubuh kita akan kehilangan kelenturan, otot menjadi kaku, gerakan tubuh menjadi terbatas dan kita lebih rentan terkena sakit pinggang dan punggung bahkan keseleo sekalipun.

Banyak ahli berpendapat bahwa hanya dengan 10 menit latihan peregangan per hari dapat mengindari kerusakan prematur sendi dan otot seperti arthritis, scoliosis atau sakit tulang punggung kronis. Stretching atau peregangan memang merupakan syarat umum yang mutlak dilakukan dalam setiap kegiatan olahraga baik itu adalah latihan cardio ataupun latihan beban. Ini menunjukkan betapa pentingnya setiap individu melakukan peregangan dalam menjalankan aktifitas sehari-hari.

Yoga pada dasarnya adalah latihan yang universal, cocok untuk yang tua mapun yang muda, baik untuk yang badannya kaku maupun yang lentur, sangat berguna untuk stretching maupun memperkuat otot dan sendi. Gerakannya dilakukan secara perlahan dengan panduan napas lewat hidung sehingga efek yang dirasakan bisa lebih maksimal. Yoga juga dapat membantu kita untuk lebih awas akan aktifitas sehari-hari yang sekiranya dapat berakibat buruk kepada sendi-sendi kita dikemudian hari.

Kita sebagai manusia memang seringkali menganggap remeh kondisi kesehatan dan daya tahan tubuh kita. Tapi seringkali kita lupa, kesehatan kita ada batasnya bila tidak diimbangi dengan gaya hidup sehat yang mencakup diet yang seimbang dan olahraga yang cukup. Hanya dimulai dari 10 menit setiap hari anda sudah satu langkah lebih maju dalam menjaga kesehatan tubuh dari gangguan penyakit dan stress yang berkepanjangan.

10 Asana untuk Yogi Pemula


10 asana berikut ini dapat dijalankan setiap hari untuk memanjangkan dan melenturkan otot dan sendi. Pakailah baju yang nyaman, lakukan pemanasan untuk menghangatkan otot dan setiap stretching diikuti dengan napas yang panjang dan lembut. Pasti setelah melakukan stretching, badan menjadi lebih segar, pikiran menjadi lebih rileks dan menjalankan aktivitas sehari-hari menjadi lebih ringan dan bertenaga. Selamat mencoba!

1. Stretching Bahu (Urdhva Hastasana)

Ini adalah salah satu masalah yang banyak dialami kaum urban, keseharian yang penuh dengan stress dengan banyaknya tuntutan hidup mengakibatkan bahu kita selalu tegang. Banyak yang berpendapat bahwa bahu adalah tempat kita menyangga beban-beban hidup kita, akibatnya bahu terasa kaku dan leher terasa tegang. Caranya berdiri tegak, rentangkan kedua tangan lurus keatas kepala dengan telapak tangan saling berhadapan. Punggung bagian bawah diusahakan tetap pada lengkungan normalnya. Latihan ini bisa juga dilakukan sambil duduk.

2. Stretching otot lengan atas (Modified Gomukhasana Arms)
Caranya berdiri letakkan tangan kanan dibelakang kepala dan coba turunkan kearah punggung, dengan tangan kiri raih siku sebelah kanan dan perlahan ditarik ke arah belakang kepala. Ulangi dengan tangan kiri. Latihan ini juga bisa dilakukan dalam keadaan duduk.

3. Stretching Dada (Modified Bhujangasana)
Tidur tengkurap, kemudian sematkan jari2 dibelakang punggung, luruskan siku anda, kemudian tarik perlahan2 ke arah belakang sehingga tulang dada sedikit terangkat. Jangan dihentak keatas dan jika merasa kurang nyaman di punggung bagian bawah segera kembali ke posisi tengkurap. Latihan ini bisa juga dilakukan dalam posisi berdiri

4. Stretching Punggung (Jathara Parivartanasana)
Pose ini sangat berguna untuk melemaskan otot-otot punggung yang sangat sering kaku. Ini juga adalah salah satu area tubuh dimana kita paling sering merasa tegang. Di pagi hari biasanya timbul mungkin dari posisi atau kualitas tidur yang kurang baik, juga di malam hari setelah kita seharian duduk di meja kerja ditambah dengan waktu yang mau tidak mau dilewati duduk dalam kendaraan  Caranya tidur terlentang tekuk paha kanan ke arah dada, kemudian dengan tangan kiri tarik paha kanan ke arah kiri ke lantai. Usahakan bahu sebelah kanan tetap rileks. Ulangi dengan kaki kiri.

5. Stretching Paha Dalam (Baddha Konasana)
Duduk tegap, tekuk kaki kearah dalam, temukan kedua telapak kaki di tengah2, pegang jari-jari kaki dengan tangan lalu dengan bantuan siku dorong paha kearah lantai

6. Stretching Paha Atas (Virasana)
Duduk tegap, lipat kaki kanan sehingga pergelangan kaki berada disebelah luar tulang duduk kanan. Ulangi dengan kaki kiri

7. Stretching Paha Belakang (Janu Sirsasana)
Satu lagi daerah dimana kita seringkali merasa kaku. Secara umum, juga dikarenakan aktifitas kita yang banyak duduk dan tidak bergerak aktif. Bagi wanita seringkali diperparah dengan pemakaian hak tinggi yang menekan otot hamstring. Caranya duduk tegap, tekuk kaki kanan sehingga telapak kaki bertemu dengan paha dalam sebelah kiri. Coba membungkuk kedepan raih lutut kiri, usahakan punggung tetap lurus. Ulangi dengan kaki kiri

8. Stretching Otot Betis (Dandasana)
Duduk tegap, kedua kaki diluruskan kedepan, tangan disamping pinggul di lantai dengan bahu yang tetap rileks. Aktifkan jari-jari kaki sehingga arah jari menghadap ke masing-masing lutut

9. Stretching Pergelangan Kaki (Malasana)
Duduk jongkok kemudian usahakan tumit belakang rata dengan tumit depan. Untuk keseimbangan tangan boleh menyangga badan

10. Relaksasi (Savasana)

Tidur terlentang, pejamkan mata, napas seperti biasa dan usahakan tidak bergerak selama beberapa menit. Ini adalah pose yang paling penting karena dengan diam kita bisa merasakan semua sensasi peregangan yang baru saja dilakukan juga memberi kesempatan bagi tubuh kita untuk mengembalikan energi yang telah terkuras sehingga pasa saat kita membuka mata tubuh terasa lebih segar dan berenergi.

Posted at 12:42 AM |  by kang obet

Text Widget

Blogger templates. Proudly Powered by Blogger.
back to top