All Stories
Showing posts with label nasional. Show all posts
Showing posts with label nasional. Show all posts

Tuesday, December 6, 2011

JAKARTA - Tak ingin kasus seperti Norman yang seenaknya ingin mundur dari kepolisian terulang, Polri menyatakan akan lebih selektif dalam penerimaan anggota Polri.
 
Bahkan, Polri akan melakukan sejumlah ujian dan pemeriksaan untuk memastikan kesiapan mental calon anggota Polri tersebut untuk menjalankan masa kedinasan disertai mengikuti aturan yang ada.
"Itu otomatis. Kami akan kaji dalam proses rekrutmen nanti kami akan evaluasi. Kami akan cek betul, apa sudah siap mentalnya untuk menjadi anggota Polri. Kalau belum, masih banyak remaja lain yang ingin menjadi anggota Polri, untuk berbakti kepada Polri, kepada negara," ujar Kadiv Humas Polri, Irjen (Pol) Saud Usman Nasution, dalam siaran persnya di Mabes Polri, Jakarta, Selasa (6/12/2011).

Menurut Saud, calon anggota Polri ke depan adalah pemuda-pemuda yang siap menjadi penerus punggawa-punggawa korps Bhayangkara, yang tak mudah tergoda dari luar. "Bila ingin menjadi anggota Polri harus dipikir dulu baik-baik, dipikir dulu untung ruginya. Jangan saat jadi anggota Polri dan berhasil, dia justru meninggalkan Polri. Itu tidak bagus," ujarnya.

Sebagaimana diberitakan, Selasa siang, sidang etik Polda Gorontalo memutuskan memberhentikan dengan tidak hormat Norman Kamaru sebagai anggota Brimob Polda Gorontalo, karena telah melakukan disersi atau mangkir dari tugas selama sekitar 3 bulan. Mangkirnya Norman karena memang ia tidak ingin lagi di kepolisian dan menyatakan capek menjadi polisi. Ia lebih memilih keluar agar bisa bebas mengembangkan bakat musiknya tanpa terkekang aturan kepolisian.

Menurut Saud, pihaknya juga mengambil hikmah atas apa yang dilakukan Norman tersebut, yakni dengan lebih memberikan kesempat anggota Polri untuk mengembangkan bakatnya, namun tetap dalam koridor peraturan.

"Saya kira kami bisa membina, bukan hanya bagian seni, olahraga pun kami bisa. Kami senang kalau ada anggota yang punya potensi. Bakat seni, pintar nyanyi akan lebih mudah melakukan pendekatan kepada masyarakat. Kami akan juga membantu dan memfasilitasi. Itu pun harus ikuti aturan. Setiap anggota yang berprestasi akan dihargai. Tapi, kalau tidak ikuti aturan, maka akan dikenai sidang disiplin, kode etik dan pidana juga bisa. Kami tidak ingin membeda-bedakan anggota atau mengistimewakan satu anggota. Jangan sampai 1 orang anggota membuat rusak semuanya," ucap Saud seraya menyayangkan pilihan hidup Norman yang lebih memilih menjadi artis.

Penerimaan Polisi Akan Lebih Selektif Pascakasus Norman

JAKARTA - Tak ingin kasus seperti Norman yang seenaknya ingin mundur dari kepolisian terulang, Polri menyatakan akan lebih selektif dalam penerimaan anggota Polri.
 
Bahkan, Polri akan melakukan sejumlah ujian dan pemeriksaan untuk memastikan kesiapan mental calon anggota Polri tersebut untuk menjalankan masa kedinasan disertai mengikuti aturan yang ada.
"Itu otomatis. Kami akan kaji dalam proses rekrutmen nanti kami akan evaluasi. Kami akan cek betul, apa sudah siap mentalnya untuk menjadi anggota Polri. Kalau belum, masih banyak remaja lain yang ingin menjadi anggota Polri, untuk berbakti kepada Polri, kepada negara," ujar Kadiv Humas Polri, Irjen (Pol) Saud Usman Nasution, dalam siaran persnya di Mabes Polri, Jakarta, Selasa (6/12/2011).

Menurut Saud, calon anggota Polri ke depan adalah pemuda-pemuda yang siap menjadi penerus punggawa-punggawa korps Bhayangkara, yang tak mudah tergoda dari luar. "Bila ingin menjadi anggota Polri harus dipikir dulu baik-baik, dipikir dulu untung ruginya. Jangan saat jadi anggota Polri dan berhasil, dia justru meninggalkan Polri. Itu tidak bagus," ujarnya.

Sebagaimana diberitakan, Selasa siang, sidang etik Polda Gorontalo memutuskan memberhentikan dengan tidak hormat Norman Kamaru sebagai anggota Brimob Polda Gorontalo, karena telah melakukan disersi atau mangkir dari tugas selama sekitar 3 bulan. Mangkirnya Norman karena memang ia tidak ingin lagi di kepolisian dan menyatakan capek menjadi polisi. Ia lebih memilih keluar agar bisa bebas mengembangkan bakat musiknya tanpa terkekang aturan kepolisian.

Menurut Saud, pihaknya juga mengambil hikmah atas apa yang dilakukan Norman tersebut, yakni dengan lebih memberikan kesempat anggota Polri untuk mengembangkan bakatnya, namun tetap dalam koridor peraturan.

"Saya kira kami bisa membina, bukan hanya bagian seni, olahraga pun kami bisa. Kami senang kalau ada anggota yang punya potensi. Bakat seni, pintar nyanyi akan lebih mudah melakukan pendekatan kepada masyarakat. Kami akan juga membantu dan memfasilitasi. Itu pun harus ikuti aturan. Setiap anggota yang berprestasi akan dihargai. Tapi, kalau tidak ikuti aturan, maka akan dikenai sidang disiplin, kode etik dan pidana juga bisa. Kami tidak ingin membeda-bedakan anggota atau mengistimewakan satu anggota. Jangan sampai 1 orang anggota membuat rusak semuanya," ucap Saud seraya menyayangkan pilihan hidup Norman yang lebih memilih menjadi artis.

Posted at 11:32 AM |  by kang obet

Thursday, December 1, 2011


Jakarta - Hidup Sjafruddin Prawiranegara memang bak balada. Presiden Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) ini tentu saja seorang pahlawan bagi bangsanya. Tapi ia menjadi korban kezaliman penguasa sebelum akhirnya dengan sangat terlambat diakui kepahlawanannya.

Tidak bisa ditampik jasa Sjafruddin dalam mempertahankan kedaulatan NKRI sangatlah besar. Tapi untuk menetapkan lelaki hebat ini sebagai pahlawan nasional tidak gampang. Nama Sjafruddin diajukan hingga tiga kali sebelum akhirnya ditetapkan sebagai pahlawan nasional pada 8 November 2011 oleh Presiden SBY. Awalnya Sjafruddin diusulkan pada 2007, lalu diusulkan lagi pada 2009. Dan baru pengusulan pada 2011 berhasil.

Pembahasan gelar pahlawan untuk Sjafruddin alot sebab terkait cap ia menjadi pemberontak dalam Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI). Sjafruddin menjadi perdana menteri gerakan yang ditumpas oleh Soekarno itu.

PRRI lahir dari kerumitan persoalan Indonesia sebagai negara yang masih sangat muda. PRRI ingin mengingatkan Soekarno yang dianggap sewenang-wenang. Saat itu republik memang dalam kondisi yang sulit. Kemiskinan menerjang semua daerah di Indonesia. Tapi Soekarno justru sibuk membangun proyek-proyek mercusuar seperti Monumen Nasional (Monas), Masjid Istiqlal, dan Stadion Gelora Senayan di Jakarta.

Sikap Soekarno tidak disukai panglima-panglima militer yang ada di daerah. Apalagi Soekarno terlalu dekat dengan PKI yang tidak disukai oleh kelompok Islam dan nasionalis. Panglima-panglima militer di daerah mulai mengadakan gerakan.

Sejumlah politisi di Jakarta juga sudah mulai bergerak. Wakil Presiden Muhammad Hatta, tokoh politisi dari Partai Sosialis Indonesia (PSI) Sumitro Djojohadikusumo dan tokoh Partai Masyumi Muhammad Natsir turut dalam rapat-rapat rahasia bersama tokoh PRRI dan tokoh Persatuan Rakyat Semesta (Permesta) Vence Sumual.

"Jadi PRRI dibentuk tahun 1958, Permesta itu tahun 1957. Karena merasa satu ideologi dan tujuan kenapa sering disebut PRRI/Permesta," jelas kerabat Sjafruddin, Nadjmudin Busro, yang juga sejarahwan asal Banten itu.

PRRI ini dibentuk oleh Panglima Divisi Banteng, Kolonel Ahmad Husein dan sejumlah stafnya, seperti Kolonel Simbolon, bersama sejumlah politisi seperti Muhammad Natsir, Sumitro Djojohadikusumo, M Hatta di Bukit Tinggi, Sumatera Barat.

Pada tanggal 10 Februari 1958, PRRI melalui RRI Padang mengeluarkan pernyataan 'Piagam Jakarta' yang berisi sejumlah tuntutan yang ditujukan pada Soekarno agar kembali kepada kedudukan yang konstitusional menghapus segala akibat dan tindakan yang melanggar UUD 1945 serta membuktikan kesediaannya itu dengan kata dan perbuatan.

PRRI mengultimatum dalam tempo 5 x 24 jam Kabinet Juanda pemerintahan Soekarno harus diserahkan ke Kabinet Hatta dan Sri Sultan Hamengku Buwono IX, serta meminta Soekarno menjauhi PKI.

Saat itu Soekarno yang sedang berada di Tokyo, Jepang pun menolak tuntutan PRRI. Mendapat penolakan Soekarno, PRRI membalas dengan mengumumkan pendirian pemerintahan tandingan yaitu PRRI lengkap dengan kabinetnya. Kabinet yang diumumkan pada tanggal 15 Februari 1958 itu terdiri dari Sjafruddin sebagai Perdana Mentri dan Mentri Keuangan. M Simbolon sebagai Mentri Luar Negri. Burhanudin Harahap sebagai Mentri Pertahanan dan mentri kehakiman dan Dr. Sumitro Djojohadikusumo sebagai Mentri Perhubungan/Pelayaran

"Ultimatum ini membuat Soekarno marah dan langsung membuat Operasi 17 Agustus yang dipimpin oleh Jenderal Abdul Haris Nasution untuk memberantas PRRI," terang Nadjmudin.

Sjafruddin menyerahkan diri kepada ibu pertiwi setelah Soekarno mengumumkan amnesti bagi para pendukung PRRI untuk menyerahkan diri sebelum 5 Oktober 1961. Namun balasannya setelah menyerah Sjafruddin dijebloskan ke penjara dan dibui selama 3,5 tahun.

"Sjafruddin ini orang jujur. Saat turun gunung dia juga menyerahkan 29 kg emas milik PRRI kepada AH Nasution," kata Nadjmudin.

Emas ini digunakan PRRI sebagai modal untuk perang karena saat PRRI itu, Sjafruddin menjadi Gubernur Bank Sentral. Meski pernah dijebloskan ke penjara, presiden PDRI ini tidak dendam pada Soekarno. Ketika PKI hancur dan Soekarno akan disidang di Mahkamah Militer Luar Biasa, Sjafruddin-lah yang membela Soekarno.

"Dia sempat berkata kalau sampai Soekarno diadili, akulah orang yang akan membelanya," jelas Nadjmudin.

PRRI bukanlah gesekan pertama Sjafruddin dengan Soekarno. Saat masih menjadi Ketua PDRI, ia pun berbeda pendapat dengan Soekarno dalam menyikapi perundingan Roem - Van Royen.

Sikap Sjafruddin dan didukung Soedirman berpendapat seharusnya PDRI yang berunding dengan Belanda, bukan Soekarno yang saat itu menjadi tawanan. Namun kala itu, gesekan antara para pemimpin RI tidak sampai menjadi perpecahan. Gesekan selesai dengan lebih mengedepankan persatuan bangsa daripada ego masing-masing.

Setelah bebas dari penjara, Sjafruddin memilih jalur dakwah dan mananggalkan panggung politik. Ia menjadi Ketua Korps Mubalig Indonesia (KMI) pada tahun 1985. Meski di jalur dakwah, pria bersahaja ini tetap kritis terhadap pemerintahan.

Pada masa Soeharto, Sjafruddin juga mengalami pencekalan. Ia dilarang menjadi khatib salat Idul Fitri 1404 atau 1980 terkait isi kotbahnya yang banyak berisi politik. Khutbah Sjafruddin berjudul 'Kembali Pada Pancasila dan UUD 1945' akan diakukan di Masjid Al A'raf, Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Pada tanggal 15 Februari 1989, Sjafruddin wafat. Sang Presiden terlupakan ini wafat pada umur 77 tahun dan dimakamkan di TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan.

Kini, dengan diberikan gelar pahlawan nasional kepada Sjafruddin, maka pengikut dan pendukung PRRI semestinya juga diberi label yang sama. Sebab, pendukung dan pengikut PRRI yang dicap pemberotak oleh pemerintahan Soekarno dipicu persoalan perbedaan pandangan politik dan ideologi.

Pemerintah sendiri, khususnya Kementerian Pertahanan (Kemenhan) juga menilai persoalan PRRI menjadi lebih clear dengan pemberian penghargaan pahlawan kepada Sjafruddin. Diakui Kemenhan, selama ini ada paradigma, baik pemerintah maupun TNI bahwa PRRI adalah suatu gerakan pemberontakan atau pengkhianatan.

Kini disadari PRRI memberontak karena memang situasi saat itu memaksa mereka melakukan itu. Mereka memberontak karena ingin mengoreksi keadaan. "Jadi saat ini kita positif memandang persoalan PRRI ini terjadi karena ada perbedaan pandangan atau pendapat," kata Kepala Pusat Komunikasi Publik Kemenhan Brigjen TNI Hartind Asrin kepada detik+.


(iy/vit)

Pemberontak Jadi Pahlawan Dipenjarakan Soekarno, Dicekal Soeharto


Jakarta - Hidup Sjafruddin Prawiranegara memang bak balada. Presiden Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) ini tentu saja seorang pahlawan bagi bangsanya. Tapi ia menjadi korban kezaliman penguasa sebelum akhirnya dengan sangat terlambat diakui kepahlawanannya.

Tidak bisa ditampik jasa Sjafruddin dalam mempertahankan kedaulatan NKRI sangatlah besar. Tapi untuk menetapkan lelaki hebat ini sebagai pahlawan nasional tidak gampang. Nama Sjafruddin diajukan hingga tiga kali sebelum akhirnya ditetapkan sebagai pahlawan nasional pada 8 November 2011 oleh Presiden SBY. Awalnya Sjafruddin diusulkan pada 2007, lalu diusulkan lagi pada 2009. Dan baru pengusulan pada 2011 berhasil.

Pembahasan gelar pahlawan untuk Sjafruddin alot sebab terkait cap ia menjadi pemberontak dalam Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI). Sjafruddin menjadi perdana menteri gerakan yang ditumpas oleh Soekarno itu.

PRRI lahir dari kerumitan persoalan Indonesia sebagai negara yang masih sangat muda. PRRI ingin mengingatkan Soekarno yang dianggap sewenang-wenang. Saat itu republik memang dalam kondisi yang sulit. Kemiskinan menerjang semua daerah di Indonesia. Tapi Soekarno justru sibuk membangun proyek-proyek mercusuar seperti Monumen Nasional (Monas), Masjid Istiqlal, dan Stadion Gelora Senayan di Jakarta.

Sikap Soekarno tidak disukai panglima-panglima militer yang ada di daerah. Apalagi Soekarno terlalu dekat dengan PKI yang tidak disukai oleh kelompok Islam dan nasionalis. Panglima-panglima militer di daerah mulai mengadakan gerakan.

Sejumlah politisi di Jakarta juga sudah mulai bergerak. Wakil Presiden Muhammad Hatta, tokoh politisi dari Partai Sosialis Indonesia (PSI) Sumitro Djojohadikusumo dan tokoh Partai Masyumi Muhammad Natsir turut dalam rapat-rapat rahasia bersama tokoh PRRI dan tokoh Persatuan Rakyat Semesta (Permesta) Vence Sumual.

"Jadi PRRI dibentuk tahun 1958, Permesta itu tahun 1957. Karena merasa satu ideologi dan tujuan kenapa sering disebut PRRI/Permesta," jelas kerabat Sjafruddin, Nadjmudin Busro, yang juga sejarahwan asal Banten itu.

PRRI ini dibentuk oleh Panglima Divisi Banteng, Kolonel Ahmad Husein dan sejumlah stafnya, seperti Kolonel Simbolon, bersama sejumlah politisi seperti Muhammad Natsir, Sumitro Djojohadikusumo, M Hatta di Bukit Tinggi, Sumatera Barat.

Pada tanggal 10 Februari 1958, PRRI melalui RRI Padang mengeluarkan pernyataan 'Piagam Jakarta' yang berisi sejumlah tuntutan yang ditujukan pada Soekarno agar kembali kepada kedudukan yang konstitusional menghapus segala akibat dan tindakan yang melanggar UUD 1945 serta membuktikan kesediaannya itu dengan kata dan perbuatan.

PRRI mengultimatum dalam tempo 5 x 24 jam Kabinet Juanda pemerintahan Soekarno harus diserahkan ke Kabinet Hatta dan Sri Sultan Hamengku Buwono IX, serta meminta Soekarno menjauhi PKI.

Saat itu Soekarno yang sedang berada di Tokyo, Jepang pun menolak tuntutan PRRI. Mendapat penolakan Soekarno, PRRI membalas dengan mengumumkan pendirian pemerintahan tandingan yaitu PRRI lengkap dengan kabinetnya. Kabinet yang diumumkan pada tanggal 15 Februari 1958 itu terdiri dari Sjafruddin sebagai Perdana Mentri dan Mentri Keuangan. M Simbolon sebagai Mentri Luar Negri. Burhanudin Harahap sebagai Mentri Pertahanan dan mentri kehakiman dan Dr. Sumitro Djojohadikusumo sebagai Mentri Perhubungan/Pelayaran

"Ultimatum ini membuat Soekarno marah dan langsung membuat Operasi 17 Agustus yang dipimpin oleh Jenderal Abdul Haris Nasution untuk memberantas PRRI," terang Nadjmudin.

Sjafruddin menyerahkan diri kepada ibu pertiwi setelah Soekarno mengumumkan amnesti bagi para pendukung PRRI untuk menyerahkan diri sebelum 5 Oktober 1961. Namun balasannya setelah menyerah Sjafruddin dijebloskan ke penjara dan dibui selama 3,5 tahun.

"Sjafruddin ini orang jujur. Saat turun gunung dia juga menyerahkan 29 kg emas milik PRRI kepada AH Nasution," kata Nadjmudin.

Emas ini digunakan PRRI sebagai modal untuk perang karena saat PRRI itu, Sjafruddin menjadi Gubernur Bank Sentral. Meski pernah dijebloskan ke penjara, presiden PDRI ini tidak dendam pada Soekarno. Ketika PKI hancur dan Soekarno akan disidang di Mahkamah Militer Luar Biasa, Sjafruddin-lah yang membela Soekarno.

"Dia sempat berkata kalau sampai Soekarno diadili, akulah orang yang akan membelanya," jelas Nadjmudin.

PRRI bukanlah gesekan pertama Sjafruddin dengan Soekarno. Saat masih menjadi Ketua PDRI, ia pun berbeda pendapat dengan Soekarno dalam menyikapi perundingan Roem - Van Royen.

Sikap Sjafruddin dan didukung Soedirman berpendapat seharusnya PDRI yang berunding dengan Belanda, bukan Soekarno yang saat itu menjadi tawanan. Namun kala itu, gesekan antara para pemimpin RI tidak sampai menjadi perpecahan. Gesekan selesai dengan lebih mengedepankan persatuan bangsa daripada ego masing-masing.

Setelah bebas dari penjara, Sjafruddin memilih jalur dakwah dan mananggalkan panggung politik. Ia menjadi Ketua Korps Mubalig Indonesia (KMI) pada tahun 1985. Meski di jalur dakwah, pria bersahaja ini tetap kritis terhadap pemerintahan.

Pada masa Soeharto, Sjafruddin juga mengalami pencekalan. Ia dilarang menjadi khatib salat Idul Fitri 1404 atau 1980 terkait isi kotbahnya yang banyak berisi politik. Khutbah Sjafruddin berjudul 'Kembali Pada Pancasila dan UUD 1945' akan diakukan di Masjid Al A'raf, Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Pada tanggal 15 Februari 1989, Sjafruddin wafat. Sang Presiden terlupakan ini wafat pada umur 77 tahun dan dimakamkan di TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan.

Kini, dengan diberikan gelar pahlawan nasional kepada Sjafruddin, maka pengikut dan pendukung PRRI semestinya juga diberi label yang sama. Sebab, pendukung dan pengikut PRRI yang dicap pemberotak oleh pemerintahan Soekarno dipicu persoalan perbedaan pandangan politik dan ideologi.

Pemerintah sendiri, khususnya Kementerian Pertahanan (Kemenhan) juga menilai persoalan PRRI menjadi lebih clear dengan pemberian penghargaan pahlawan kepada Sjafruddin. Diakui Kemenhan, selama ini ada paradigma, baik pemerintah maupun TNI bahwa PRRI adalah suatu gerakan pemberontakan atau pengkhianatan.

Kini disadari PRRI memberontak karena memang situasi saat itu memaksa mereka melakukan itu. Mereka memberontak karena ingin mengoreksi keadaan. "Jadi saat ini kita positif memandang persoalan PRRI ini terjadi karena ada perbedaan pandangan atau pendapat," kata Kepala Pusat Komunikasi Publik Kemenhan Brigjen TNI Hartind Asrin kepada detik+.


(iy/vit)

Posted at 7:56 PM |  by kang obet


Jakarta - Masyarakat Banten banyak yang terheran-heran Sjafruddin Prawiranegara diangkat sebagai pahlawan nasional atas usul Pemerintah Banten. Banyak warga Banten beranggapan Sjafruddin merupakan orang Minangkabau, Sumatera.

Sesungguhnya pria yang akhirnya ditetapkan sebagai pahlawan nasional pada 8 November 2011 ini kelahiran Banten. Sjafruddin lahir di Anyer Kidul, Serang, Banten pada 28 Februari 1911.

Ayah Sjafruddin Raden Arsjad Prawiraatmadja, keturunan Sultan Banten. Sang ibu, Nur Aini binti Mas Abidin Mangundiwirya, anak pejabat pangreh praja Banten.

Meski demikian, anggapan Sjafruddin merupakan orang Minang tidak terlalu salah. Kakek buyut pria yang biasa dipanggil Kuding itu, Sutan Alamintan yang berasal dari lingkungan Kerajaan Pagaruyung Minang.

Sutan Alamintan mengorganisasi rakyat melawan Belanda dalam Perang Paderi. Perang Paderi ini terkenal dengan pemimpinnya Tuanku Imam Bonjol. Setelah ditangkap Belanda Sutan Alamintan dibuang ke Banten.

"Sutan Alam Intan adalah orang pertama yang datang ke Anyer, Banten karena dibuang setelah ditangkap Belanda," kata ahli sejarah Nadjamudin Busro. Nadjamudin menikah dengan keponakan Sjafruddin.

Sutan Alam Intan ini lalu menikah dengan seorang wanita bangsawan keturunan Kasultaan Banten. Dari hasil pernikahannya itu lalu lahirlah kakek Sjafruddin.

Dari keluarganya, darah Sjafrudin memang darah pejuang. Tidak cuma sang kakek yang melawan Belanda. Saat Sjafruddin berumur 12 tahun, sang ayah yang merupakan seorang jaksa juga dibuang ke Kediri, Jawa Timur, karena dianggap memihak pribumi.

Raden Arsjad sebagai pejabat pemerintah Belanda menolak duduk bersila di lantai saat memberi laporan kepada pejabat Belanda. Duduk bersila dan memakai bahasa Sunda halus saat itu sudah menjadi aturan baku bagi pejabat pribumi bila berhadapan dengan penguasa Belanda. Namun Arsjad menentang aturan tersebut.

Saat sang ayah dibuang ke Kediri, Sjafrudin pun mengikutinya. Dengan begitu, masa hidup presiden kedua RI yang memimpin 207 hari Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) ini tidak banyak dilewatkan di Banten. Tidak mengherankan bila kita akan kesulitan untuk menemukan jejak Sjafruddin di kota Jawara tersebut.

"Di sini tidak dikenal. Lah dia saja belajar Islam bukan di Banten, tapi belajar Islam di Sumatera Barat sampai dewasa dan memimpin PDRI dan PRRI saat itu," terang Nadjmudin.

Tidak mengherankan bila pemberian gelar pahlawan nasional kepada Sjafruddin pun mengejutkan masyarakat Banten. Mayoritas masyarakat Banten baru mengetahui bila pria yang memimpin Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) ini merupakan orang Banten.

"Ketika ada pemberian gelar pahlawan itu banyak juga masyarakat kaget ada orang Banten (Safruddin) mendapatkan gelar itu," kata pengamat politik dan pengajar di FISIP Universitas Tirtayasa Serang, Gandung Ismanto.

Sejumlah pegawai di Kelurahan Cikoneng, Anyer Kidul, Serang misalnya banyak yang tidak tahu sosok Sjafruddin. Pegawai lainnya mengatakan baru tahu soal Sjafruddin setelah membaca berita soal penghargaan pahlawan nasional.

"Karenanya apresiasi masyarakat Banten atas penghargaan ini kurang begitu disambut meriah, kecuali keluarga sendiri, keturunan Kasultanan Banten, masyarat elitnya atau pemerintah daerah Banten sendiri," ungkap Gandung.

Hanya saja, sejak adanya pemberitaan pemberian gelar pahlawan nasional itu, tidak sedikit masyarakat Banten saat ini mencari tahu informasi soal sosok Sjafruddin. "Selama ini memori orang Banten lebih hafal dengan legenda soal Kasultanan Banten dan yang lainnya. Nah, sekarang mereka tahu ada putra Banten yang mendapatkan gelar pahlawan nasional, justru ini membangkitkan dan menambah semangat tersendiri," ujar Gandung.

Selain itu, ketidaktahuan masyarakat juga diakibatkan lamanya sosok Sjafruddin dilupakan dalam sejarah kemerdekaan RI. Kehidupannya semakin dikucilkan dari ruang publik ketika dijebloskan penjara dengan cap pemberontak karena terlibat Pemerintah Revolusioner RI (PRRI) oleh Presiden Soekarno.

Bahkan, ketika Presiden Soeharto pun sosok yang satu ini pun dianggap musuh, karena sering mengkritisi kebijakan Orde Baru. Pada Juli 1980, Sjafruddin bersama AM Fatwa, dan Bung Tomo, dilarang memberikan khutbah Idul Fitri dengan alasan kutbah mereka bisa memancin emosi masyarakat. Khutbah Sjafruddin berjudul 'Kembali Pada Pancasila dan UUD 1945' isinya 80 persen soal politik.

Hingga kini belum diketahui langkah Pemerintah Provinsi Banten dalam menyambut pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada putra asal Banten ini. "Ibu (Ratu Atut Chosiyah) sedang di Jakarta mengikuti rapat," kata salah satu ajudan Gubernur Banten, kepada detik+.

Sementara staf Humas Pemprov Banten bernama Ferry mengakui, Gubernur Banten memang akan membuat kebijakan tersendiri terkait pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada Sjafruddin. "Tapi Gubernur sedang tidak ada di sini. Beliau masih ada tugas ke Jakarta. Yang jelas kita bergembira akhirnya ada putra Banten yang menjadi pahlawan nasional," terangnya.

(iy/vit)

Pemberontak Jadi Pahlawan, Kehilangan Jejak Sjafruddin di Anyer



Jakarta - Masyarakat Banten banyak yang terheran-heran Sjafruddin Prawiranegara diangkat sebagai pahlawan nasional atas usul Pemerintah Banten. Banyak warga Banten beranggapan Sjafruddin merupakan orang Minangkabau, Sumatera.

Sesungguhnya pria yang akhirnya ditetapkan sebagai pahlawan nasional pada 8 November 2011 ini kelahiran Banten. Sjafruddin lahir di Anyer Kidul, Serang, Banten pada 28 Februari 1911.

Ayah Sjafruddin Raden Arsjad Prawiraatmadja, keturunan Sultan Banten. Sang ibu, Nur Aini binti Mas Abidin Mangundiwirya, anak pejabat pangreh praja Banten.

Meski demikian, anggapan Sjafruddin merupakan orang Minang tidak terlalu salah. Kakek buyut pria yang biasa dipanggil Kuding itu, Sutan Alamintan yang berasal dari lingkungan Kerajaan Pagaruyung Minang.

Sutan Alamintan mengorganisasi rakyat melawan Belanda dalam Perang Paderi. Perang Paderi ini terkenal dengan pemimpinnya Tuanku Imam Bonjol. Setelah ditangkap Belanda Sutan Alamintan dibuang ke Banten.

"Sutan Alam Intan adalah orang pertama yang datang ke Anyer, Banten karena dibuang setelah ditangkap Belanda," kata ahli sejarah Nadjamudin Busro. Nadjamudin menikah dengan keponakan Sjafruddin.

Sutan Alam Intan ini lalu menikah dengan seorang wanita bangsawan keturunan Kasultaan Banten. Dari hasil pernikahannya itu lalu lahirlah kakek Sjafruddin.

Dari keluarganya, darah Sjafrudin memang darah pejuang. Tidak cuma sang kakek yang melawan Belanda. Saat Sjafruddin berumur 12 tahun, sang ayah yang merupakan seorang jaksa juga dibuang ke Kediri, Jawa Timur, karena dianggap memihak pribumi.

Raden Arsjad sebagai pejabat pemerintah Belanda menolak duduk bersila di lantai saat memberi laporan kepada pejabat Belanda. Duduk bersila dan memakai bahasa Sunda halus saat itu sudah menjadi aturan baku bagi pejabat pribumi bila berhadapan dengan penguasa Belanda. Namun Arsjad menentang aturan tersebut.

Saat sang ayah dibuang ke Kediri, Sjafrudin pun mengikutinya. Dengan begitu, masa hidup presiden kedua RI yang memimpin 207 hari Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) ini tidak banyak dilewatkan di Banten. Tidak mengherankan bila kita akan kesulitan untuk menemukan jejak Sjafruddin di kota Jawara tersebut.

"Di sini tidak dikenal. Lah dia saja belajar Islam bukan di Banten, tapi belajar Islam di Sumatera Barat sampai dewasa dan memimpin PDRI dan PRRI saat itu," terang Nadjmudin.

Tidak mengherankan bila pemberian gelar pahlawan nasional kepada Sjafruddin pun mengejutkan masyarakat Banten. Mayoritas masyarakat Banten baru mengetahui bila pria yang memimpin Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) ini merupakan orang Banten.

"Ketika ada pemberian gelar pahlawan itu banyak juga masyarakat kaget ada orang Banten (Safruddin) mendapatkan gelar itu," kata pengamat politik dan pengajar di FISIP Universitas Tirtayasa Serang, Gandung Ismanto.

Sejumlah pegawai di Kelurahan Cikoneng, Anyer Kidul, Serang misalnya banyak yang tidak tahu sosok Sjafruddin. Pegawai lainnya mengatakan baru tahu soal Sjafruddin setelah membaca berita soal penghargaan pahlawan nasional.

"Karenanya apresiasi masyarakat Banten atas penghargaan ini kurang begitu disambut meriah, kecuali keluarga sendiri, keturunan Kasultanan Banten, masyarat elitnya atau pemerintah daerah Banten sendiri," ungkap Gandung.

Hanya saja, sejak adanya pemberitaan pemberian gelar pahlawan nasional itu, tidak sedikit masyarakat Banten saat ini mencari tahu informasi soal sosok Sjafruddin. "Selama ini memori orang Banten lebih hafal dengan legenda soal Kasultanan Banten dan yang lainnya. Nah, sekarang mereka tahu ada putra Banten yang mendapatkan gelar pahlawan nasional, justru ini membangkitkan dan menambah semangat tersendiri," ujar Gandung.

Selain itu, ketidaktahuan masyarakat juga diakibatkan lamanya sosok Sjafruddin dilupakan dalam sejarah kemerdekaan RI. Kehidupannya semakin dikucilkan dari ruang publik ketika dijebloskan penjara dengan cap pemberontak karena terlibat Pemerintah Revolusioner RI (PRRI) oleh Presiden Soekarno.

Bahkan, ketika Presiden Soeharto pun sosok yang satu ini pun dianggap musuh, karena sering mengkritisi kebijakan Orde Baru. Pada Juli 1980, Sjafruddin bersama AM Fatwa, dan Bung Tomo, dilarang memberikan khutbah Idul Fitri dengan alasan kutbah mereka bisa memancin emosi masyarakat. Khutbah Sjafruddin berjudul 'Kembali Pada Pancasila dan UUD 1945' isinya 80 persen soal politik.

Hingga kini belum diketahui langkah Pemerintah Provinsi Banten dalam menyambut pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada putra asal Banten ini. "Ibu (Ratu Atut Chosiyah) sedang di Jakarta mengikuti rapat," kata salah satu ajudan Gubernur Banten, kepada detik+.

Sementara staf Humas Pemprov Banten bernama Ferry mengakui, Gubernur Banten memang akan membuat kebijakan tersendiri terkait pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada Sjafruddin. "Tapi Gubernur sedang tidak ada di sini. Beliau masih ada tugas ke Jakarta. Yang jelas kita bergembira akhirnya ada putra Banten yang menjadi pahlawan nasional," terangnya.

(iy/vit)

Posted at 5:00 PM |  by kang obet

Wednesday, November 30, 2011

Perang mulut antara Ustad Solmed dan mantan istrinya, Dewi Yuliawati terus berlanjut. Bahkan kabar terbaru menyebutkan kalau mantan istri Ustad Solmed itu mempunyai video hubungan badan dirinya dengan Ustad Solmed.


Mendengar hal itu, Ustad Solmed menantang Dewi Yuliawati untuk membawa video mesum tersebut. Suami April Jasmin ini pun mengaku tak gentar menghadapi pernyataan kalau mantan istrinya mempunyai video mesum mereka pascabercerai.

"Silahkan, saya tantang, yang namanya orang ketika benar, benar dalam pandangan Allah tidak pernah takut sampai kapanpun," ungkap Ustad Solmed geram saat dihubungi via telepon, Senin (28/11/2011).

Diberitakan sebelumnya, mantan istri Ustad Solmed, Dewi Yuliawati mengaku terus diajak berhubungan badan dengan Ustad Solmed meskipun sudah bercerai. Setelah mereka bercerai pada tahun 2006, Dewi mengaku terus diajak untuk berhubungan badan layaknya suami istri

Dewi mengaku Punya video mesum ustadz Solmed?

Perang mulut antara Ustad Solmed dan mantan istrinya, Dewi Yuliawati terus berlanjut. Bahkan kabar terbaru menyebutkan kalau mantan istri Ustad Solmed itu mempunyai video hubungan badan dirinya dengan Ustad Solmed.


Mendengar hal itu, Ustad Solmed menantang Dewi Yuliawati untuk membawa video mesum tersebut. Suami April Jasmin ini pun mengaku tak gentar menghadapi pernyataan kalau mantan istrinya mempunyai video mesum mereka pascabercerai.

"Silahkan, saya tantang, yang namanya orang ketika benar, benar dalam pandangan Allah tidak pernah takut sampai kapanpun," ungkap Ustad Solmed geram saat dihubungi via telepon, Senin (28/11/2011).

Diberitakan sebelumnya, mantan istri Ustad Solmed, Dewi Yuliawati mengaku terus diajak berhubungan badan dengan Ustad Solmed meskipun sudah bercerai. Setelah mereka bercerai pada tahun 2006, Dewi mengaku terus diajak untuk berhubungan badan layaknya suami istri

Posted at 8:13 AM |  by kang obet

Tuesday, November 29, 2011

Jakarta - Syahrini mengosongkan jadwal menyanyi selama tiga hari, mulai 28-30 November 2011. Syahrini rela demi mendampingi David Beckham.
Syahrini Cium Pipi David Beckham!
"Iya, ada deh rencananya, aku nggak bisa kasih tahu. Insyaallah dari tanggal 28 sampai tanggal 30 agendaku sama Beckham terus," ucap Syahrini di Ritz Carlton, Mega Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (28/11).

Syahrini yang sangat mengidolakan David Bechkam pun mengaku sudah lama mengosongkan jadwal menyanyi demi pesepakbola dunia kesohor asal Inggris tersebut

"Memang sudah direncanakan jauh-jauh hari. Dan, memang SCTV sebagai media partenerku sangat luar biasa mendukung. Dia (David Beckham) itu sepertinya enjoy lihat Indonesia," paparnya.
Seperti diketahui, LA Galaxy , klub sepakbola tempat Beckham bernaung akan menggelar pertandingan persahabatan dengan Indonesia Selection di Stadion Utama Gelora Bung Karno pada Rabu (30/11) malam. [aji]

Syahrini Temani David Beckham Selama di Jakarta

Jakarta - Syahrini mengosongkan jadwal menyanyi selama tiga hari, mulai 28-30 November 2011. Syahrini rela demi mendampingi David Beckham.
Syahrini Cium Pipi David Beckham!
"Iya, ada deh rencananya, aku nggak bisa kasih tahu. Insyaallah dari tanggal 28 sampai tanggal 30 agendaku sama Beckham terus," ucap Syahrini di Ritz Carlton, Mega Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (28/11).

Syahrini yang sangat mengidolakan David Bechkam pun mengaku sudah lama mengosongkan jadwal menyanyi demi pesepakbola dunia kesohor asal Inggris tersebut

"Memang sudah direncanakan jauh-jauh hari. Dan, memang SCTV sebagai media partenerku sangat luar biasa mendukung. Dia (David Beckham) itu sepertinya enjoy lihat Indonesia," paparnya.
Seperti diketahui, LA Galaxy , klub sepakbola tempat Beckham bernaung akan menggelar pertandingan persahabatan dengan Indonesia Selection di Stadion Utama Gelora Bung Karno pada Rabu (30/11) malam. [aji]

Posted at 5:38 AM |  by kang obet

Wednesday, September 21, 2011

131657784237119710
Hari hari ini Briptu Norman Kamaru kembali hangat di pemberitaan, mengenai niatnya mengundurkan diri dari Korps Brimob, institusinya selama ini. Sungguh pilihan yang sangat rasional menurut saya.

Namun sebaliknya, pemberitahuan pers atau respon dari fihak institusi Kepolisian malah cenderung memposisikan ke arah negatif niat dari Briptu Norman, bukannya malah mendukung. Kenapa saya sangat mendukung dan harusnya Briptu Norman didukung? karena itu adalah pilihan yang sangat tepat, realistis, dan karena sangat materialistis tentunya.

Briptu Norman adalah salah satu potret dari yang masih ingin melekatkan predikat manusianya dengan berbuat jujur dan tidak munafik bahwa materi adalah segalanya. Mungkin yang paling memuakkan adalah ketika muncul apologi bahwa terjun ke dunia entertainment adalah panggilan jiwanya, sudahlah, itu terlalu lebai. Langsung saja bahwa hasil materi yang akan didapat akan jauh lebih besar dan menguntungkan daripada menjadi seorang polisi.

Alasan itu benar dan tidak ada salahnya sama sekali. Jangan juga kita mempertanyakan patriotisme Briptu Norman sebelum mempertanyakan hal yang sama pada diri kita sendiri. Sudah patriotismekah kita? Jangan menuntut kata pengabdian pada Briptu Norman, karena pengabdian kita pada bangsa dan negara juga masih sangat diragukan.

Lebih mudah adalah ketika kita pertanyakan kembali niat Briptu Norman waktu pertama kali masuk institusi kepolisian, untuk pengabdiankah, untuk berkerja mencari uangkah, atau untuk statuskah? atau adakah niat selain tiga itu? Ada, mungkin karena tidak ada pilihan pekerjaan lain, karena dipaksa, atau karena ingin keren saja jadi polisi, tapi lebih baik itu diabaikan saja karena terlalu mengada ngada. Dari sini saja maka su’uddzan (prasangka jelek) kita akan terpuaskan dan terjawab sekaligus. Bagaimana dengan variabel sumpah prajurit, itu juga lebih baik kita abaikan, karena semua jabatan juga ada sumpah pada waktu awalnya. Kita abaikan karena sumpah jabatan, sumpah prajurit cenderung kita lupakan. Semestinya tidak begitu teman.

Yang pasti, saya sangat yakin dan percaya bahwa Briptu Norman tidak perlu pintar matematika dan memakai kalkulator untuk mengetahui perbedaan pendapatan dan penghasilan jika tetap di kepolisian atau ketika memilih kontrak yang sudah menunggunya. Dengan ikatan dinas, tanggung jawab yang diemban sampai pensiunpun mungkin belum tentu bisa mengungguli pendapatannya dengan sekali kontrak yang mungkin akan ditanda tanganinya. Itu kalau melulu dilihat dari sisi materi, lha terus mau dilihat dari sisi apalagi? komitmen?patriotisme?sumpah prajurit?amanat dan tanggung jawab?hah….

Sudahlah, ada tidaknya Briptu Norman tidak akan berpengaruh pada kepolisian, lebih mudah mencari seorang prajurit yang lebih tampan, lebih gagah, lebih bisa dipegang komitmennya, dan terlebih lagi, sekali lagi lebih mau menjadi polisi dari Briptu Norman. Begitu juga lebih banyak seseorang diluar sana yang lebih bisa joged india, lebih bagus suaranya dari pada Briptu Norman.  Tapi minimal, Briptu Norman jadi inspirasi kegregetan saya ingin menulis ini.

sumber :
http://hiburan.kompasiana.com/musik/2011/09/21/briptu-norman-pilihan-mudah-antara-patriotisme-dan-realitisme/

Briptu Norman; Pilihan Mudah antara Patriotisme dan Realitisme

131657784237119710
Hari hari ini Briptu Norman Kamaru kembali hangat di pemberitaan, mengenai niatnya mengundurkan diri dari Korps Brimob, institusinya selama ini. Sungguh pilihan yang sangat rasional menurut saya.

Namun sebaliknya, pemberitahuan pers atau respon dari fihak institusi Kepolisian malah cenderung memposisikan ke arah negatif niat dari Briptu Norman, bukannya malah mendukung. Kenapa saya sangat mendukung dan harusnya Briptu Norman didukung? karena itu adalah pilihan yang sangat tepat, realistis, dan karena sangat materialistis tentunya.

Briptu Norman adalah salah satu potret dari yang masih ingin melekatkan predikat manusianya dengan berbuat jujur dan tidak munafik bahwa materi adalah segalanya. Mungkin yang paling memuakkan adalah ketika muncul apologi bahwa terjun ke dunia entertainment adalah panggilan jiwanya, sudahlah, itu terlalu lebai. Langsung saja bahwa hasil materi yang akan didapat akan jauh lebih besar dan menguntungkan daripada menjadi seorang polisi.

Alasan itu benar dan tidak ada salahnya sama sekali. Jangan juga kita mempertanyakan patriotisme Briptu Norman sebelum mempertanyakan hal yang sama pada diri kita sendiri. Sudah patriotismekah kita? Jangan menuntut kata pengabdian pada Briptu Norman, karena pengabdian kita pada bangsa dan negara juga masih sangat diragukan.

Lebih mudah adalah ketika kita pertanyakan kembali niat Briptu Norman waktu pertama kali masuk institusi kepolisian, untuk pengabdiankah, untuk berkerja mencari uangkah, atau untuk statuskah? atau adakah niat selain tiga itu? Ada, mungkin karena tidak ada pilihan pekerjaan lain, karena dipaksa, atau karena ingin keren saja jadi polisi, tapi lebih baik itu diabaikan saja karena terlalu mengada ngada. Dari sini saja maka su’uddzan (prasangka jelek) kita akan terpuaskan dan terjawab sekaligus. Bagaimana dengan variabel sumpah prajurit, itu juga lebih baik kita abaikan, karena semua jabatan juga ada sumpah pada waktu awalnya. Kita abaikan karena sumpah jabatan, sumpah prajurit cenderung kita lupakan. Semestinya tidak begitu teman.

Yang pasti, saya sangat yakin dan percaya bahwa Briptu Norman tidak perlu pintar matematika dan memakai kalkulator untuk mengetahui perbedaan pendapatan dan penghasilan jika tetap di kepolisian atau ketika memilih kontrak yang sudah menunggunya. Dengan ikatan dinas, tanggung jawab yang diemban sampai pensiunpun mungkin belum tentu bisa mengungguli pendapatannya dengan sekali kontrak yang mungkin akan ditanda tanganinya. Itu kalau melulu dilihat dari sisi materi, lha terus mau dilihat dari sisi apalagi? komitmen?patriotisme?sumpah prajurit?amanat dan tanggung jawab?hah….

Sudahlah, ada tidaknya Briptu Norman tidak akan berpengaruh pada kepolisian, lebih mudah mencari seorang prajurit yang lebih tampan, lebih gagah, lebih bisa dipegang komitmennya, dan terlebih lagi, sekali lagi lebih mau menjadi polisi dari Briptu Norman. Begitu juga lebih banyak seseorang diluar sana yang lebih bisa joged india, lebih bagus suaranya dari pada Briptu Norman.  Tapi minimal, Briptu Norman jadi inspirasi kegregetan saya ingin menulis ini.

sumber :
http://hiburan.kompasiana.com/musik/2011/09/21/briptu-norman-pilihan-mudah-antara-patriotisme-dan-realitisme/

Posted at 3:32 PM |  by kang obet

Monday, June 6, 2011


Laporan: Zul Hidayat Siregar



RMOL. Beberapa media massa di Ibukota Jakarta mendapat kiriman dari orang tak dikenal.

Tak tanggung-tanggung, sekitar pukul 07.30 WIB, kantor harian berbahasa Inggris yang beralamat di Jalan di Palmerah Barat, Jakarta Barat itu dikirim orang tak dikenal sebuah peti mati.

"Info yang saya terima, Tempo, Kompas, Metro dan SCTV juga mendapat kiriman peti mati," kata seorang wartawan lewat pesan singkat yang dikirim ke milis Aliansi Jurnalis Independen pagi ini.

Selain peti mati berukuran agak besar, juga terdapat karangan bunga yang bertuliskan, www.restinpeace.com.

Sampai saat ini, pihak Kepolisian belum dihubungi. Telepon genggam Kabag Penum Polri Boy Rafli Amar, tak diangkat saat dihubungi. Sedangkan telepon seluler Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Baharuddin Jafar, tak aktif. [zul]  di kti dari /www.rakyatmerdekaonline.com

Beberapa Kantor Media Massa Dikirimi Peti Mati


Laporan: Zul Hidayat Siregar



RMOL. Beberapa media massa di Ibukota Jakarta mendapat kiriman dari orang tak dikenal.

Tak tanggung-tanggung, sekitar pukul 07.30 WIB, kantor harian berbahasa Inggris yang beralamat di Jalan di Palmerah Barat, Jakarta Barat itu dikirim orang tak dikenal sebuah peti mati.

"Info yang saya terima, Tempo, Kompas, Metro dan SCTV juga mendapat kiriman peti mati," kata seorang wartawan lewat pesan singkat yang dikirim ke milis Aliansi Jurnalis Independen pagi ini.

Selain peti mati berukuran agak besar, juga terdapat karangan bunga yang bertuliskan, www.restinpeace.com.

Sampai saat ini, pihak Kepolisian belum dihubungi. Telepon genggam Kabag Penum Polri Boy Rafli Amar, tak diangkat saat dihubungi. Sedangkan telepon seluler Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Baharuddin Jafar, tak aktif. [zul]  di kti dari /www.rakyatmerdekaonline.com

Posted at 12:05 AM |  by kang obet

Text Widget

Blogger templates. Proudly Powered by Blogger.
back to top